AKTUALISASI SASU’U SALEMBA DALAM PEMBAGIAN WARISAN MASYARAKAT BIMA

  • Zuhrah Zuhrah STIH Muhammadiyah Bima
  • Juhriati Juhriati STIH Muhammadiyah Bima
  • Husnatul Mahmudah Institut Agama Islam (IAI) Muhammadiyah Bima
Keywords: Sasu’u Salemba, Warisan, Masyarakat Bima

Abstract

Secara umum di Indonesia belum terbentuk unifikasi hukum waris. Terlihat dari pluralitas hukum waris yang digunakan oleh masyarakat tanpa adanya sanksi bila memakai salah satu hukum waris tersebut (hukum waris Islam, hukum waris Perdata dan hukum Waris Adat).

Dari sisi teologi, masyarakat muslim berkeinginan membagi warisan sesuai dengan kaidah al-Quran dan Sunnah. Akan tetapi, karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan pembagian warisan secara Islam menyebabkan masyarakat membagi sesuai kehendak mereka. Lembaga peradilan yang menangani kewarisan hanya terbatas pada lingkup sengketa saja, tidak memberi edukasi bagaimana membagi warisan secara Islam. Masalah ini yang dihadapi masyarakat Bima saat ini dan entah sampai kapan akan berlanjut.

Sasu’u Salemba dipahami sebagai metode pembagian warisan secara Islam dan dianggap telah dilaksanakan oleh masyarakat Bima. Padahal dalam kenyataannya bahwa pembagian warisan masyarakat Bima berdasarkan asas musyawarah mufakat. Dimana konteks tersebut menunjukkan bahwa jargon Sasu’u Salemba tinggal teori masa lalu bagi masyarakat Bima, bukan lagi dogma yang dipercaya sebagai bawaan agama yang harus dijalankan.

Published
2021-03-08
How to Cite
Zuhrah, Zuhrah, Juhriati Juhriati, and Husnatul Mahmudah. 2021. SANGAJI: Jurnal Pemikiran Syariah Dan Hukum 5 (1), 53-66. Accessed May 16, 2021. https://doi.org/https://doi.org/10.52266/sangaji.v5i1.602.
Section
Sangaji : Jurnal Pemikiran Syariah dan Hukum